Login / Register

Categories
Gallery
          dscn3397.jpg           copy-of-dscn6940.jpg
Friends

www.gerejafransiskus.com

erosario.net

JADWAL PEKAN SUCI 2012

March 7th, 2012

JADWAL PEKAN SUCI 2012

MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

Misa ke-1 : Sabtu 31 Maret 2012 pukul 18.00 WIB

Misa ke-2 : Minggu, 1 April 2012 puluk 05.30 WIB

Misa ke-3 : Minggu, 1 April 2012 pukul 07.30 WIB

Misa ke-4: Minggu, 1 April 2012 pukul 10.00 WIB

Misa ke-5 : Minggu, 1 April 2012 pukul 18.00 WIB

KAMIS PUTIH PERINGATAN PERJAMUAN TUHAN

Misa ke-1 : Kamis, 5 April 2012 pukul 18.00 WIB

Misa ke-2 : Kamis, 5 April 2012 pukul 20.30 WIB

JUMAT AGUNG UPACARA SENGSARA TUHAN

Upacara ke-1 : Jumat, 6 April 2012 pukul 15.00 WIB

Upacara ke-2 : Jumat, 6 April 2012 pukul 18.00 WIB

MALAM PASKAH

Misa ke-1 : Sabtu, 7 April 2012 pukul 18.00 WIB

Misa ke-2 : Sabtu, 7 April 2012 pukul 21.30 WIB

HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN

Misa ke-1 : Minggu, 8 April 2012 pukul 06.00 WIB

Misa ke-2 : Minggu, 8 April 2012 pukul 08.00 WIB

Misa ke-3 : Minggu, 8 April 2012 pukul 10.00 WIB

Misa ke-4 : Minggu, 8 April 2012 pukul 18.00 WIB

Jumat Agung : Menghormati Satu Salib Yesus

March 7th, 2012

Jumat Agung : Menghormati Satu Salib Yesus

C.H. Suryanugraha, OSC

Pernah terjadi di suatu paroki, pada saat penghormatan Salib dalam liturgi Jumat Agung, semua umat harus menghormati dua Salib dari tujuh Salib yang tersedia di depan altar. Praktek yang aneh dan tak masuk akal. Mengapa ada tujuh Salib dan harus menghormati dua Salib di antaranya? Ini benar-benar lebay, berlebihan. Bisa dibayangkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Ada kisah lain, tiga Salib yang tersedia di depan altar dipegang para misdinar. Seorang anak kecil tak mau antri di lajur bagian kiri dan kanan. Dia mau yang di tengah saja, karena menurut imajinasinya yang di tengah itu adalah Salib Yesus, sedangkan yang di kiri dan kanan itu salib para penjahat. Cerita lain, ketika untuk pertama kali suatu paroki menerapkan hanya satu Salib saja yang dihormati dalam liturgi itu, muncullah protes sekelompok umat yang kecewa dan tidak setuju, padahal sebagian besar umat malah memuji dan mensyukurinya. Contoh-contoh ini menyiratkan dua hal yang perlu dilihat secara proporsional: norma liturgis dan kebutuhan pastoral tentang penggunaan Salib dalam liturgi Jumat Agung.

Kisah ritual penghormatan Salib

Secara tradisional diakui bahwa Helena, ibunya Kaisar Konstantinus telah menemukan Salib yang digunakan untuk memuncaki kesengsaraan Kristus di tanah Yerusalem itu. Kayu Salib itu sungguh dihormati, dan dengan segera merebaklah bentuk penghormatan pada kayu Salib Kristus itu. Pada akhir abad IV seorang peziarah bernama Egeria yang ketika itu (antara 383 atau 384) mengunjungi Yerusalen mencatat dan mengisahkan ritual pada liturgi Jumat Agung itu. Ritual dimulai pagi hari sekitar pukul 08.00. Sebuah takhta untuk uskup sudah disiapkan di tempat yang diyakini sebagai bekas tempat Yesus disalibkan, di bukit Golgota. Kayu Salib kemudian ditampilkan di depan umat. Sebuah peti berlapis perak berisi potongan kayu Salib Yesus dibuka. Kayu Salib dan prasasti dikeluarkan dan diletakkan pada sebuah meja. Setelah diletakkan, dengan segera uskup sambil duduk memegang ujung-ujung kayu Salib itu dengan tangannya. Seorang diakon yang berdiri di dekatnya menjaga. Begitulah ritus eksposisi Salib itu saat itu. Kemudian umat satu persatu memberi penghormatan. Mulanya mereka membungkuk, menyentuh Salib dan prasastinya, pertama dengan kening, dengan mata, lalu mengecup Salib itu, dang meninggalkannya. Venerasi atau penghormatan itu berlangsung hingga akhir tengah hari.

Selain itu Paulinus dari Nola (403 M) juga melaporkan bahwa setiap tahun selama Paskah Tuhan uskup Yerusalem membawa kayu Salib itu untuk dihormati oleh umat dan ia sendiri yang memimpin ritual penghormatan itu. Bahkan uskup Yerusalem secara ajeg mencuwili kayu Salib suci itu menjadi relikwi-relikwi kecil dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Sirilus dari Yerusalem juga mengakui praktek itu. Maka dari itu, adorasi pada Salib berkembang juga di Gereja Timur. Baru pada akhir abad VII, berkat pengaruh Konstantinopel, venerasi Salib mulai muncul di Roma. Liturgi kepausan punya praktek agak berbeda. Kayu Salib yang disimpan dalam tempat khusus berlapis emas dan bertakhta permata (relikuiarium). Paus sendiri membawa pedupaan di depan kayu Salib itu. Selama perarapak itu dinyanyikan Mazmur 118 (“Lihatlah kahu Salib…”). Sesampainya di Basilika Salib Suci Paus, para klerus, dan umat berdoa bersama, kemudian mereka mengecup relikwi Salib itu. Dalam Pontifikal Romawi-Jerman terungkap suatu kebiasaan atraktif, yakni penghormatan kayu Salib dengan berlutut atau bahkan berbaring-tiarap.

Selama abad XI-XII biara Cluny dan pusat-pusat pembaruan gereja di Franko-Jermani membawa angin segar bagi Roma. Praktek venerasi makin berkembang. Paus digambarkan melepas sepatunya lalu berbaring tiga kali sebelum mengecup kayu Salib yang masih terselubung kayu Salib yang masing terselubungi kain (Ordo XXXI). Setelah itu ia mengambil nada “Ecce lignum crucis” (Lihatlah kayu Salib) tiga kali dengan setiap kalinya membuka selubung itu. Madah Trisagonian, Pange lingua dan lain-lainnya dinyanyikan selama penghormatan Salib.

Sebagian besar praktek ritual tadi masih terawat dalam Missale Romanum Paulus VI (1970), baik teks maupun tata geraknya. Namun ada juga perkembangan menarik bahwa relikwi kayu Salib sudah tidak lagi dipakai dalam venerasi sejak sekitar abad XIV. Obyek adorasi itu diganti dengan Salib yang menampilkan tubuh Kristus yang terpancang (crucifixion). Ini karena pengaruh rontoknya cara pikir simbolisme abad pertengahan yang terdesak oleh era sekular dan pemikiran humanistis ala Renaisans.

Satu Salib, tanda yang sejati

Praktek penghormatan Salib secara pribadi setelah seruan tiga kali masih dilakukan juga di banyak gereja di Indonesia. Cara tradisional ini masih dipertahankan karena dianggap masih bermanfaat bagi kebutuhan rohani umat. Namun, ekspresinya bisa “lain ladang lain belalang” dengan kreativitas beragam. Ada yang menghormati dengan cara mengecup tubuh Yesus yang tergantung di kayu Salib. Ada yang sekedar berlutur dan menyentuhkan tangannya. Ada yang menyediakan bejana di depan Salib dan setiap umat menaruh bunga yang dibawanya dalam bejana itu. Ada juga yang meletakkan kayu Salib terbaring dan melakukan tabur bunga di atas Salib itu. Kreatifitas yang dikembangkan pun bisa melenceng dari makna asali ritu ini, seperti contoh dengan cara menabur bunga. Kita menghormati Salib kok seperti menaburkan bunga di ata pusara atau gundukan tanah yang ditimbunkan di atas peti mati. Dalam praktek penghormatan pribadi ternyata kita temuakan juga problem simbolisme, yakni kediaksambungan antara simbol (Salib) dan bahasa (gesture) yang diperlukan untuk menampilkan makna simbolisme penghormatan itu. Problem lainnya adalah tentang penggandaan Salib, yang ternyata mengingkari makna kesejatian simbol Salib Yesus.

Sesuai dengan yang terdapat dalam buku Misale Romanum (Feria VI in Passione Domine, n.19), Surat Edaran Perayaan Pasakah dan Persiapannya (Litterae Circulares de Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis) nomor 69 mau menegaskan kembali: “Salib harus disajikan kepada setiap setiap orang beriman untuk dihormati, karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini; hanya bila hadir jemaat yang amat besar, ritus penghormatan bersama dapat dilaksanakan. Hanya satu Salib disediakan untuk dihormati, karena dituntut kesejatian tanda…”. Kutipan ini dapat dibaca ulang dan dipersingkat begini: “Hanya satu Salib yang dihormati oleh setiap jemaat secara pribadi. Jika jumlah jemaatnya amat besar, maka penghormatan pribadi dapat diganti dengan penghormatan bersama”.

Memang dari kutipan Surat Edaran itu tidak ada saran, peluang, ataupun tafsiran untuk menggandakan Salib atau menghapuskan penghormatan. Sarannya hanyalah: jika jemaatnya melimpah silakan menggantikan penghormatan pribadi dengan penghormatan bersama. Kenyataannya, teks tadi mungkin ditafsirkan berbeda. Banyak paroki kita yang malah menggandakan Salib demi penghormatan pribadi itu. Harus dicatat juga bahwa praktek penghormatan bersama yang disarankan itu jangan dijadikan alasan untuk penghematan waktu, dengan begitu saja menghapus penghormatan pribadi meskipun umat berimat yang hadir tidak banyak. Jadi, kalau keadaan dan jumlah umat bersesuaian dengan waktu yang tersedia, maka penghormatan pribadi kepada satu Salib haruslah diadakan.

Penggandaan Salib untuk memecahkan masalah?

Kita bisa mengkritisi kebiasaan penggandaan dan penghormatan Salib yang sudah salah kaprah. Salib yang digandakan jelas mengingkari kesejatian simbolis yang diharapkan Gereja. Salib adalah tanda sejati untuk Yesus yang dikenangkan wafat pada hari Jumat Agung, setelah melalui proses penistaan yang memilukan dan memuncak pada kayu Salib. Salib Yesus yang di Golgota itu dihadirkan kembali ditengah umat dalam perayaan Liturgi. Penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan itu untuk memuliakan Yesus Sang Tersalib yang jaya, pemenang atas kesengsaraan dan kematian.

Alasan penggandaan dengan penghormatan pribadi biasanya adalah masalah jumlah jemaat yang amat besar. Ditambah persoalan waktu yang terbatas, mengingat masih ada perayaan liturgi selanjutnya. Ternyata, pemecahan masalah ini makin hari makin tidak memuaskan. Semakin bertambah jemaat, maka ada kemungkinan penambahan Salib lagi. Waktu yang dibutuhkan untuk penghormatan pun semakin panjang dan melelahkan. Kor sudah kehabisan nyanyian dan suara, penghormatan belum juga berakhir. Suasana jadi tidak kondusif karena nada-nada keresahan seperti menguasai ruang perayaan. Semua menanti setelah melaksanakan ritual yang mungkin tidak dimengerti. Itukah simbolisme yang dikehendaki? Apakah makna penghormatan kepada Kristus Sang Tersalib dapat terungkapkan dengan simbolisasi yang kurang jujur seperti penggandaan Salib itu?

Satu Salib demi simbolisme yang jujur

Penggandaan Salib dapat dikatakan sebagai bentuk ketidakjujuran menampilkan simbol. Ketidakjujuran ini dapat menghalangi penghayatan atas simbolisme penghormatan. Seperti contoh seorang anak yang tak mau menghormati Sali di lajur kiri atau kanan, karena beranggapan bahwa Salib Yesus yang harus dia hormati adalah yang di tengah. Maka, sebaiknya kita mulai memperhitungkan lagi kemungkinan atau kebiasaan penggandaan Salib itu. Pedoman dari Surat Edaran yang dikutip di atas mungkin dapat membantu mencerahkan kita.

Tawaran Surat Edaran untuk mengganti penghormatan pribadi dengan penghormatan bersama sudah merupakan jawaban terhadap problem pastoral liturgi zaman ini. Kehadiran umat yang melimpah menuntut pengaturan waktu yang bijaksana.

Konsekuensinya, dibutuhkan penyikapan terhadap ritual penghormatan yang menuntut waktu lama. Durasi wajar untuk Ibadat Jumat Agung sebaiknay jangan melebihi tiga jam. Lebih dari itu suasana perayaan akan terganggu oleh beberapa reaksi kelemahan manusiawi. Perayaan bisa menjadi tidak khitmat lagi dan suasana batin umat tidak terfokus.

Langkah pembaruan

Berikut ini beberapa langkah untuk mengupayakan penghormatan bersama kepada satu Salib yang kiranya tidak mengurangi nilai penghormatan pribadi:

1. Pikirkan dengan baik alokasi waktu yang diperlukan dengan tetap mempertimbangkan kondisi fisik dan batin umat, maupun lingkungan sekitar tempat perayaan. Jika Ibadat bisa dilangsungkan secara baik, benar, dan indah dalam kurun waktu dua hingga tiga jam, mengapa tidak diutamakan? Tidaklah bijaksana menyandera umat berjam-jam tanpa melakukan kegiatan bermakna dalam perayaan, selain menanti selesainya seluruh kegiatan itu.

2. Cara penghormatan bersama pada intinya sudah dilaksanakan pada waktu imam membawa dan mengangkat kayu Salib sambil menyanyikan, “Lihatlah kayu Salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat Dunia”. Lalu umat menjawab sambil berlutut, “Mari bersembah sujud kepadaNya”. Jika itu dirasa masih belum cukup, maka dapat dilaksanakan penghormatan bersam sekali lagi dengan cara yang berbeda. Misalnya, imam dapat mengangkat Salib Yesus yang satu itu di depan umat dan umat menanggapinya dengan nyanyian pujian atau aklamasi khusu sambil berlutul lama. Atau, Salib itu diarak lagi mengitari tempat perayaan sementara umat bernyanyai. Tidak perlu ada pemberkatan dengan Salib itu, karena yang diutamakan adalah sisi penghormatan dari pihak umat, bukan pemberkatan dari pihak Allah. Amat dianjurkan menyediakan bentuk Salib yang besar atau mudah dilihat oleh kebanyakan umat.

3. Penghormatan pribadi dari umat yang masih menginginkannya dapat diwadahi setelah Ibadat selesai. Misalnya, Salib tetap berdiri tegak dalam tempat perayaan dan umat dapat dengan leluasa mengungkapkan penghormatan pribadi dengan cara sesuka hatinya. Atau, Salib itu dapat dipindahkan ke tempat lain, jika tempat perayaan masih akan digunakan untuk Ibadat Jumat Agung selanjutnya. Cara ini amat terbuka untuk ekspresi spontan dan personal dari setiap umat tanpa ikatan waktu dan aturan.

4. Pilihan-pilihan di atas (nomor 1-3) sebelumnya perlu dikomunikasikan kepada seluruh umat. Risiko terhadap perubahan atau pembaruan adalah kemungkinan adanya penolakan, selain penerimaan yang memang diharapkan. Maka, sosialisasi tentang perubahan itu perlu dilakukan dengan baik dan bijaksana sebelum perubahan itu dilaksanakan. Pendekatan informatif maupun persuasif dapat dilakukan melalui berbagai media, entah oleh pastor paroki sendiri, para pemimpin umat di tingkat lingkungan/wilayah, atau oleh penanggung jawab bidang liturgi.

Langkah ini sudah mempertimbangkan prinsip pembaruan liturgi pasca Konsili Watikan II yang mengharapkan tidak lagi terjadi pengulangan simbolis tanpa ari dan selalu dapat tampil anggun meskipun sederhana. Semoga kita dapat lebih menyadari dan melakukan hal-hal pokok dan bermakna, daripada melaksanakan kebiasaan yang tidak kita ketahui maknanya atau yang cenderung bertentangan dengan maknanya yang sejati.

Sumber : Majalah LITURGI Vol. 22 No. 1, Januari – Februari 2011, halaman 36-39.

LINGKARAN PASKAH

March 7th, 2012

LINGKARAN PASKAH

Bosco da Cunha, O.Carm

Lingkaran Paskah terdiri dari Masa Prapaskah dan Masa Paskah. Pekan Suci adalah puncak dan sumber permenungan di mana secara istimewa dirayakan kenangan akan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.

Masa Prapaskah

Masa Prapaskah dimulai pada hari Rabu sampai dengan Kamis Putih siang.

Pengenalan Arti

- Adalah masa persiapan untuk merayakan Misteri Penebusan (Konstitusi Liturgi, KL 107) yang berpuncak dalam Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Kristus.

- Ciri-ciri persiapan ialah (KL 109) : pertama, mengenang dan mempersiapkan pembaptisan. Kedua, membina pertobatan.

- Dua ciri khas persiapan ini merupakan fokus kegiatan paroki, terutama seksi Liturgi dan Pewartaan/Katekese. Lewat dua sarana ini “kaum beriman yang tekun mendengarkan Sabda Tuhan dan meluangkan waktu untuk berdoa, disiapkan oleh Gereja (paroki) untuk merayakan Misteri Paskah” (KL 109). Oleh Karena itu :

- Pertama, perlu menjelaskan kepada umat beriman mengenai pentingnya pembaruan iman pembaptisan untuk pengembangan hidup rohani mereka (Perayaan Paskah dan Persiapannya, PPP 8; KL 109); serta mendoakan para calon baptisan.

- Kedua, selama Masa Prapaskah sangat dianjurkan perayaan Tobat untuk memabtu umat mengaku dosa. Ibadat Tobat ini terbuka bagi segala umur. Dalam katekese hendaknya ditegaskan, dampak sosial dari dosa dan arti Tobat untuk mencampakkan dosa yang merupakan penghinaan terhadap Allah. Sangat dianjurkan pula supaya umat berdoa bagi para pendosa supaya bertobat.

- Ketiga, Tobat selama Masa Prapaskah tidak boleh hanya secara perorangan, tetapi juga diungkapkan secara lahir dalam kegiatan sosial kemasyarakatan (PPP 14; KL 110; bdk APP).

- Singkatnya, ada empat unsur penting dalam melaksanakan Pertobatan: (1) Lebih tekun mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan; (2) Lebih rajin berdoa; (3) Berpantang dan berpuasa; (4) Meningkatkan karya-karya amal-kasih.

Hal-hal praktis yang perlu diperhatikan (bdk. PPP 17-26):

- Litani para kudus mengiringi perarakan masuk meriah (dari pintu depan gereja) pada Hari Minggu Prapaskah I; sebab merupakan pembuka 40 hari Puasa seperti Yesus.

- Altar tidak dihiasi bungan dan alat-alat musik hanya sekedar untuk mengiringi nyanyian umat. Kecuali, kalau ada hari raya atau pesta dan pada Hari Minggu Laetare (Prapaskah IV).

- Alleluia ditiadakan dalam semua perayaan termasuk kalau ada Hari Raya atau Pesta.

- Salib dibungkus sejak Hari Minggu V atau menjelang Jumat Agung, menurut kebijakan keuskupan dan situasi umat. Namun tidak dibungkus sejak Rabu Abu. Salib-salib dibuka setelah perayaan Jumat Agung; tetapi patung-patung lain masih tetap terbungkus sampai sore hari menjelang Malam Paskah.

Pekan Suci

Pekan Suci dimulai pada Minggu Palma sampai Hari Minggu Paskah Kebangkitan Tuhan.

1) Minggu Palma merupakan hari Minggu paling unik: kegembiraan mengelu-elukan Raja dan Ekaristi mengenang sengsara Tuhan. Dituntut penyelarasan nyanyian dan kemeriahan/kesedihan tema perayaan (PPP 27-33).

Pembawa Kisah Sengsara, yang menjadi Kristus harus imam atau Diakon; demikian pula berlaku pada Jumat Agung.

2) Kamis Putih merupakan perayaan Paskah Ritual, yang mengawali TRI HARI PASKAH, Jumat, Sabtu, Minggu. Sebelum Misa tabernakel harus kosong. Dan hosti yang dikonsekrir diperhitungkan untuk Komuni pada Jumat Agung (PPP 48-57).

Peragaan isi Injil tentang Yesus mencuci kaki para rasul hendaknya diperhatikan dengan baik.

Kamis Putih merupakan saat yang paling tepat untuk mempersembahkan hasil APP lewat perarakan persembahan secara meriah.

3) Jumat Agung merupakan hari Pertama Paskah Kristus berdasarkan data historis. Hal-hal praktis, lihat PPP 58-72.

4) Sabtu Suci : Yesus di makam merupakan Hari Kedua Paskah Kristus. Kita berjaga dan merenungkan Misteri Sengsara dan Wafat Tuhan seraya menantikan Kebangkitan-Nya. Hal-hal praktis, bdk. PPP 73-76.

5) Malam Paskah : Vigilia Kebangkitan Tuhan merupakan malam pembebasan sejati di mana “dengan mematahkan belenggu kematian, Kristus bangkit sebagai Pemenang atas maut” (Exultet).

6) Hari Raya Paskah Kebangkitan, hari Ketiga. Alangkah baiknya ritus penitensial diganti dengan percikan air suci lambang pembaptisan (mati, bangkit bersama Kristus).

Masa Paskah

Masa Paskah berlangsung selama 50 hari. Pentakosta artinya “hari yang kelimapuluh”.

- Merupakah perpanjangan kegembiraan Pasakah yang menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan Gereja dalam kekuatan Roh Kudus.

- Merupakan masa pneumatologis kharismatis; masa pembenahan kembali dinamika hidup berparoki sesuai dengan tema bacaan setiap hari dan setiap Minggu.

Sumber : Majalah LITURGIA Vol. 11, nomer 1 Tahun 2011, halaman 34-35.

Surat Gembala Prapaskah Keuskupan Surabaya 2012

February 17th, 2012

Surat Gembala PRAPASKAH 2012

Bagi umat Katolik Keuskupan Surabaya

(Hendaknya dibacakan di semua gereja dan kapel di wilayah Keuskupan Surabaya, pada tanggal 18 dan 19 Februari 2012)


Saudara-saudara, Umat Allah yang terkasih,

Pada saat kita dibaptis, kita berjanji untuk menyangkal yang jahat dan memperoleh keselamatan, yaitu pengampunan segala dosa serta anugerah hidup baru.[1] Injil Markus (yang kita dengar hari ini)[2] mengisahkan tentang ada empat orang yang membawa seorang lumpuh kepada Tuhan Yesus untuk disembuhkan. Tuhan Yesus melihat adanya suatu kelumpuhan yang lebih mendasar, lebih dari sekedar kelumpuhan fisik yang perlu disembuhkan, yakni kelumpuhan yang disebabkan oleh dosa. Maka sabda keselamatan dan kesembuhan yang diberikan Tuhan kepadanya adalah SABDA PENGAMPUNAN, “Supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”. Peristiwa keselamatan tersebut didahului oleh iman para pengantar. Karena Tuhan melihat iman mereka, maka Tuhan bersabda, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni”. Keselamatan dan pengampunan merupakan buah gerakan solidaritas yang didasari oleh iman yang besar. Inilah bentuk pertobatan sejati, yakni perubahan sikap baik secara pribadi maupun gerakan bersama demi keselamatan dan pengampunan.

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” inilah seruan yang menyatakan bahwa pertobatan adalah bagian hakiki dalam pewartaan Kerajaan Allah. Maka Gereja terus menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan[3]. Gerakan pertobatan pertama-tama adalah pertobatan batin yang lalu mewujud dalam tanda-tanda kelihatan dalam puasa, matiraga dan karya-karya pertobatan atau biasa kita namai Aksi Puasa Pembangunan (APP). Tanpa pertobatan batin maka yang terjadi adalah ketidakjujuran, tidak berbuah baik dan semu[4]. Tobat batin adalah sikap hati mengarahkan langkah kepada Allah, disertai rasa rindu yang mendalam menata kembali seluruh kehidupan, segenap hati meninggalkan kejahatan, menyadari kembali sebagai anak-anak Allah - seperti anak yang hilang dan dengan segala sesal kembali kepada ayahnya[5] - menemukan kembali kebesaran dan cinta Allah. Tobat batin ini ditandai dengan hati yang tergetar karena diguncangkan oleh Roh yang menyadarkan kejijikan akan dosa dan ketakutan terpisah dari Allah. Roh itu pula yang sekaligus membongkar kedok dosa dan sekaligus juga menolong serta menganugerahkan rahmat penyesalan dan pertobatan.[6]

Di dalam Kitab Suci diceritakan, selama 40 hari Musa berada di puncak Sinai, selama 40 hari Nabi Elia berjalan menuju gunung Allah yang suci, seluruh penduduk kota Niniwe berpuasa selama 40 hari, selama 40 tahun bangsa terpilih keluar dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji, dan selama 40 hari Tuhan Yesus berpuasa di padang gurun[7]. Demikianlah Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, sejak abad ke-4, menetapkan 40 hari masa puasa sebagai wujud pertobatan batin untuk mempersiapkan diri merayakan sengsara, wafat dan Kebangkitan Tuhan.

Kita semua akan memulai masa prapaskah pada besok hari Rabu Abu, yang jatuh pada tanggal 22 Februari 2012. Pada hari itu kita akan ditandai di dahi dengan abu yang menandakan pertobatan terbuka dan bersama-sama di hadapah Allah dan Gereja untuk memulai perjalanan rohani sebagai seorang pendosa kepada pemurnian jiwa[8]. Maka marilah kita membuka diri bagi Tuhan yang hendak membersihkan dosa-dosa dan menguduskan kita. Tindakan pertobatan ini adalah tindakan Gereja bukan sekedar tindakan individual. Isilah masa prapaskah ini dengan lebih tekun bersama-sama mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan, lebih rajin berdoa, datang mengaku dosa, berpantang dan berpuasa serta meningkatkan karya amal kasih terhadap mereka yang berkekurangan dan menderita.[9]

Tema APP Nasional tahun ini adalah “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Mengingat Keuskupan Surabaya pada tahun ini mencanangkan Tahun REMAJA dan LITURGI sebagai fokus perhatian pastoral, maka Tema APP di keuskupan Surabaya di kaitkan dengan kesejahteraan yang berakar pada spiritualitas Ekaristi. Sehingga, Tema APP di keuskupan surabaya menjadi “MEWUJUDKAN HIDUP SEJAHTERA YANG EKARISTIS”. Kesejahteraan yang kita rindukan bukanlah buah dari keserakahan yang tidak adil, kemakmuran harta buah ketidakjujuran dan tindakan korupsi sebagaimana akhir-akhir ini terus dibeberkan di berbagai masmedia, namun kesejahteraan yang berakar pada sikap solidaritas sebagaimana dicontohkan Tuhan Yesus dalam Ekaristi, ‘Hidup yang dipecah-pecahkan dan dibagi-bagi’. Kesejahteraan sejati dibangun diatas rasa solider dengan sesama. Dimana ada SOLIDARITAS di sana terbangun kesejahteraan bersama. Karena Ekaristi yang kita makan dan hidupi itu, maka marilah kita menentang segala bentuk korupsi dan egoisme baik di dalam Gereja maupun di hidup kemasyarakatan. Dengan hidup sederhana, murah hati, jujur, transparan, akuntabel serta secara tegas tidak mau ambil bagian dalam korupsi maka kita telah ikut membangun bangsa ini menuju kesejahteraan sejati.

Telah kita ketahui bersama bahwa prioritas-prioritas program serta nilai-nilai yang hendaknya dihayati di 15 bidang strategis reksa pastoral yang direkomendasikan oleh Musayawarah Pastoral 2009 juga merupakan suatu KOMITMEN PERTOBATAN dalam penggembalaan Umat Allah di Keuskupan Surabaya. Di tahun Remaja dan Liturgi ini kita disadarkan akan dua hal penting:

Pertama, tentang para remaja. Kita harus mengakui bahwa sekian lama kita kurang optimal dalam memberikan hati penggembalaan bagi para remaja kita. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa muda/dewasa, merupakan tonggak waktu yang sangat krusial dalam perkembangan kehidupan manusia. Marilah kita bertanya dan berjuang untuk menjawab dalam karya pastoral kita, apakah kita sungguh-sungguh mendampingi pertumbuhan iman remaja kita? Apakah kita menyediakan ruang bagi pengenalan diri dan lingkungan pergaulan yang sehat bagi mereka? Apakah kita telah membimbing mereka untuk mengenali panggilan hidup dan masa depan mereka? Apakah kita merelakan diri menjadi pendamping bagi para remaja? Sungguh, kita semua tidak menginginkan remaja kita kehilangan jati diri, iman dan masa depan. Tantangan hidup mereka ditengah arus teknologi dan pergaulan tidaklah ringan maka bersama seksi remaja di tingkat Paroki ataupun kevikepan berikanlah dukungan nyata bagi pendampingan pastoral remaja.

Kedua, tentang Liturgi. Kita menyadari bahwa seluruh rahasia iman Katolik kita hidupi, doakan dan rayakan dalam Liturgi suci. Apakah kita baik sebagai pelayan tertahbis maupun para petugas liturgi serta seluruh Umat telah melaksanakan secara benar dan layak? Apakah kita terus menerus belajar mendalami kekayaan makna liturgi? Apakah kita meningkatkan jumlah dan mutu pembinaan bagi pelayan dan petugas liturgi? Maka dengan diadakannya katekese pra-misa di seluruh kapel dan gereja di Keuskupan Surabaya sepanjang tahun ini, juga merupakan bentuk pertobatan kita. Sehingga seluruh Umat dan para pelayan serta petugas semakin memahami kekayaan warisan suci dalam liturgi terutama liturgi Ekaristi kita. Marilah kita menjaga kemurnian dan kesakralan liturgi. Jauhkan keagungan Liturgi dari pengaruh religio-tainment’ , yakni upaya upaya memperalat dan mengalahkan makna simbolik dan tata liturgi yang baku demi kepentingan-kepentingan duniawi ataupun tren-tren entertainment.

Secara istimewa dalam masa Prapaskah ini, marilah kita sadari dan sambut rahmat istimewa kerahiman Tuhan dalam Sakramen Pengampunan Dosa. Di paruh terakhir abad ini di sadari bahwa ada suatu tragedi yg memprihatinkan, yang diderita Gereja Katolik, yakni terjadi kecenderungan menghindari anugerah luhur Roh Kudus yang mengalir dari Sakramen Pengampunan Dosa[10]. Padahal ini adalah satu satu mutiara anugerah Allah yang di dunia hanya dimiliki dalam Gereja Katolik. Sudah semestinya, kita putra putri gereja, meminum rahmat ini sehingga buah pembebasan belenggu dosa mengalir melalui setiap penitens menyebar bagi sesama. Kemungkinan merosotnya antusiasme pengakuan dosa ini paling tidak disebabkan oleh dua hal: Kita sendiri kurang mewartakan kekayaan rahmat sakramen pengampunan dalam katekese umat atau juga karena kuatnya virus skeptisme dunia seperti yang menjangkiti para ahli Taurat dalam Injil hari ini, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?”[11]

Semoga Tuhan memberkati pertobatan kita dalam masa Prapaskah ini, sehingga kita memiliki tanah yang subur bagi rahmat Paskah. Marilah kita taburkan buah-buah pertobatan sehingga semua orang mengalami kebangkitan hidup baru bersama Tuhan yang bangkit.

Berkat Tuhan

Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono

Uskup Surabaya


[1] Katekismus Gereja Katolik (KGK) : 1427

[2] Mrk 2:1-12

[3] LG 8. , KGK 1427-1428

[4] KGK 1430

[5] Luk 15:17-21

[6] Bdk. KGK 1431-1433

[7] Kel 34:28 ; 1Raj19:8 ; Yn 3:1-10 ; Mat 4:2 ; Luk 4:2

[8] Bdk. Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya. No. 21

[9] SC 109-110

[10] Sebagaimana terjadi di Barat, di serukan oleh Uskup Agung Cologne Cardinal Joachim Meisner, A tragedy for the Church: the forgotten sacrament of confession, TODAYS n.5-2010. H. 40

[11] Mrk 2: 6-7

Injil Mg XXV/A 18 Sept 11 (Mat 20:1-16)

September 17th, 2011

Rekan-rekan di Internos,
Karena sedang dipenuhi kesibukan, pengisi rubrik ini meminta saya berbicara mengenai perumpamaan dalam Mat 20:1-16 yang dibacakan pada hari Minggu XXV tahun A ini. Ceritanya tentu sudah anda kenal. Pagi-pagi benar seorang pemilik kebun anggur menawarkan pekerjaan dengan upah sedinar sehari. Upah sedinar memang lazim bagi pekerja harian waktu itu. Tentu saja para pencari kerja menerima. Sang empunya kebun itu kemudian juga mengajak orang yang belum mendapat pekerjaan pada pukul sembilan, duabelas, tiga, dan bahkan sampai pukul lima sore - sejam sebelum usai jam kerja. Masalahnya begini. Tiap pekerja, entah yang datang satu jam sebelum tutup hari, entah yang mulai pagi-pagi mendapat upah sama: satu dinar. Maka yang datang pagi tidak puas, kok upahnya sama dengan yang bekerja satu jam saja. Pemilik kebun menegaskan, bukannya ia berlaku tak adil. Kan tadi sudah saling sepakat mengenai upah sedinar. Ia merasa merdeka memberi upah sedinar juga kepada yang datang belakangan. Jawaban ini menukas rasa iri hati orang yang melihat ia bermurah hati kepada orang lain. Sebenarnya kata-kata itu bukan hanya ditujukan kepada pekerja yang protes melainkan kepada siapa saja yang membaca dan pendengar perumpamaan. Read the rest of this entry »

YM Status

Events Calendar
May 2012
MoTuWeThFrSaSu
  
 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31  
Links

motacm Blog's

Kalender Liturgi
Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...