<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://gerejakelsapa.com/news/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejakelsapa.com/news</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 16:32:32 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pesta kelahiran Santa Perawan Maria</title>
		<link>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2751</link>
		<comments>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2751#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 16:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>motacm</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Santo dan Santa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerejakelsapa.com/news/?p=2751</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini Gereja seluruh dunia merayakan “Pesta kelahiran Santa Perawan Maria”. Pesta ini sesungguhnya menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai wanita yang punya peranan besar di dalam karya keselamatan Allah. Sehubungan dengan pesta ini mungkin terlintas dalam benak kita pertanyaan berikut: “Landasan pemikiran apa yang melatarbelakangi pesta ini?”
Kita tidak bisa langsung menjawab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="style138" align="justify">Hari ini Gereja seluruh dunia merayakan “Pesta kelahiran Santa Perawan Maria”. Pesta ini sesungguhnya menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai wanita yang punya peranan besar di dalam karya keselamatan Allah. Sehubungan dengan pesta ini mungkin terlintas dalam benak kita pertanyaan berikut: “Landasan pemikiran apa yang melatarbelakangi pesta ini?”<span id="more-2751"></span></p>
<p class="style138" align="justify">Kita tidak bisa langsung menjawab pertanyaan ini dengan membeberkan peristiwa kelahiran Maria secara lengkap dan obyektif berdasarkan informasi dari dokumen – dokumen terpercaya Gereja seperti Alkitab. Yang mungkin bagi kita ialah melihat peranan dan kedudukan Maria di dalam rencana dan karya keselamatan Allah di dalam sejarah.</p>
<p class="style138" align="justify">Tentang hal ini Gereja mengajarkan bahwa Allah – setelah kejatuhan manusia – menjanjikan seorang Penebus bagi umat manusia. Penebus itu adalah AnakNya sendiri. Untuk maksud luhur itu Allah membutuhkan kerjasama manusia; Allah membutuhkan seorang perempuan untuk mengandungkan dan melahirkan AnakNya. Kebeneran iman ini dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada Galatia: “…Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan…” (Gal 4:4).</p>
<p class="style138" align="justify">Siapa perempuan itu? Perempuan itu adalah Maria, seorang puteri keturunan Abraham. Dari sini Gereja mengajarkan bahwa Maria telah ditentukan Allah sedari kekal untuk mengandung dan melahirkan AnakNya. Untuk itu ia suci sejak lahirnya dan diperkandungkan tanpa noda dosa asal.</p>
<p class="style138" align="justify">Dalam konteks pengakuan iman inilah, Gereja merasa perlu menentukan suatu hari khusus (yaitu: 8 September) untuk merayakan peristiwa kelahiran Maria. Dasar pertimbangan disini – barangkali sangat sederhana – ialah bahwa sebagai manusia, Maria tentu pernah lahir pada waktu dan tempat tertentu, dari orangtua dan suku tertentu. Injil – injil sendiri tidak mengatakan secara jelas bahwa Maria juga adalah keturunan Daud, sebagaimana Yusuf suaminya. Yang penting disini bukanlah ketepatan hari kelahiran itu tetapi ungkapan iman Gereja akan Maria sebagai perempuan yang ditentukan Allah untuk mengandungkan dan melahirkan AnakNya.</p>
<p class="style138" align="justify">Seturut sejarah, mulanya pesta ini dirayakan di lingkungan Gereja Timur berdasarkan ilham dari tulisan – tulisan apokrif pada abad ke – 6; pada akhir abad ke – 7, barulah pesta ini diterima dan dirayakan di dalam Gereja Barat Roma.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerejakelsapa.com/news/?feed=rss2&amp;p=2751</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Injil Minggu Biasa XXIII/C</title>
		<link>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2749</link>
		<comments>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2749#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 03:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>motacm</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerejakelsapa.com/news/?p=2749</guid>
		<description><![CDATA[MINGGU KITAB SUCI NASIONAL
Rekan-rekan!
Pada awal Luk 14:25-33 yang dibacakan pada  hari Minggu Biasa XXIII tahun C disebutkan bahwa &#8220;ada banyak orang  berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanannya&#8221; (ayat 25). Tentunya  yang dimaksud ialah perjalanan ke Yerusalem, tempat nanti ia bakal  ditolak dan disalibkan tapi akan dibangkitkan setelah wafat. Dengan  berita yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>MINGGU KITAB SUCI NASIONAL</strong></p>
<p>Rekan-rekan!</p>
<p>Pada awal Luk 14:25-33 yang dibacakan pada  hari Minggu Biasa XXIII tahun C disebutkan bahwa &#8220;ada banyak orang  berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanannya&#8221; (ayat 25). Tentunya  yang dimaksud ialah perjalanan ke Yerusalem, tempat nanti ia bakal  ditolak dan disalibkan tapi akan dibangkitkan setelah wafat. Dengan  berita yang bunyinya sederhana itu Lukas mau membuat pembaca merasa  bertanya-tanya apakah orang banyak itu juga berani mengikutinya terus  sampai ke akhir perjalanannya. Pertanyaan itu juga diharapkan timbul  dalam diri siapa saja yang berusaha menyertai perjalanan Yesus.<span id="more-2749"></span></p>
<p>Pada  bagian selanjutnya diuraikan bagaimana caranya orang dapat mengikut  Yesus sampai akhir. Menurut para ahli tafsir, kata-kata Yesus dalam ayat  25-33 disampaikan oleh Lukas guna menjelaskan maksud perumpamaan  tentang seorang tuan rumah yang mengadakan perjamuan dalam Luk 14:15-24.  Di situ disebutkan bahwa semua yang sanggup datang ikut perjamuan kini  berdalih dengan macam-macam alasan untuk tidak jadi datang. Saking  kesalnya tuan rumah itu kemudian menyuruh hamba-hambanya mengumpulkan  orang miskin, orang cacat, orang buta dan orang lumpuh agar datang  memenuhi rumahnya. Perumpamaan itu pada dasarnya mengatakan bahwa yang  akhirnya masuk ke dalam perjamuan Kerajaan Allah justru orang-orang yang  tadinya tidak diperhitungkan. Dalam sejarah tafsir acap kali para  undangan yang tidak jadi datang tadi dikenakan kepada orang Yahudi,  &#8220;umat terpilih zaman dulu&#8221;. Bagian mereka dalam perjamuan itu kini  diberikan kepada &#8220;umat baru&#8221;. Namun hal yang sama bisa berlaku pula bagi  siapa saja yang memperoleh ajakan menjadi umat tapi kemudian mangkir.</p>
<p>MASUK  KERAJAAN ALLAH?</p>
<p>Segera timbul persoalan baru. Apakah status  sebagai &#8220;orang miskin, penyandang cacat, buta, lumpuh&#8221;, status sebagai  &#8220;umat baru&#8221; itu jaminan menikmati kelimpahan tuan rumah tadi? Dengan  kata lain menjadi miskin, dst. itu sama dengan mendapat tiket gratis  masuk ke Kerajaan Allah? Kok gampang. Sesederhana itukah? Persoalan ini  menjadi masalah hangat dalam kehidupan Gereja sejak awal. Luk 14:25-33  memuat salah satu pemecahan. Ditegaskan bahwa agar benar-benar nanti  dapat memasuki Kerajaan Allah orang perlu menjadi murid Yesus. Apa  syarat-syaratnya? Petikan itu memberi rincian lebih jauh.</p>
<p>Marilah  sebentar ditengok cara Injil Matius menyampaikan pembicaraan yang  sejalan. Dalam Mat 22:1-14 dituturkan perumpamaan yang mirip dengan Luk  14:15-24, yakni para undangan yang berdalih tidak datang. Dalam Injil  Matius perumpamaan itu langsung diikuti dengan cerita mengenai orang  yang datang tanpa berpakaian pantas (&#8221;pakaian perjamuan&#8221;, ayat 11-14)  dan oleh karenanya tidak boleh ikut berpesta meski sudah didatangkan.  Bagian ini menjelaskan apa syaratnya agar orang betul-betul dapat ikut  serta dalam pesta. Jadi sejajar dengan petikan Injil Lukas yang sedang  dibicarakan sekarang, yakni Luk 14:25-33. Bagi Lukas, &#8220;pakaian  perjamuan&#8221; dalam Matius itu dijelaskan sebagai upaya menjadi murid  Yesus. Cara penyampaian Matius dalam hal ini lebih langsung dan lebih  jelas, namun Lukas lebih mendalam walaupun meminta pembaca lebih  memikirkan perkaranya. Dalam pembicaraan dengan ahli tafsir di bawah  nanti akan didalami lebih lanjut masalah ini. Sekarang marilah kita  pelajari ayat 25-33.</p>
<p>MENJADI MURID YESUS</p>
<p>Kepada para  pengikut Yesus kini disampaikan pengajaran mengenai apa artinya menjadi  murid yang sejati. Ujung pangkal perjalanan ini hanya dapat dijabarkan  dari keakraban dengan sang tokoh yang diikuti ini. Memang berawal dari  Luk 13:22 kata-kata Yesus yang ditampilkan kembali dalam Injil Lukas  terasa makin menantang. Menjadi muridnya menuntut komitmen yang makin  besar. Diutarakan syarat-syarat menjadi murid Yesus. Mengikutinya  mengatasi ikatan sanak keluarga dan kepentingan sendiri. Menjadi  muridnya sama dengan menempuh hidup baru yang bisa jadi amat berlainan  dengan yang biasa dijalani hingga kini.</p>
<p>Petikan Injil Lukas ini  menyampaikan tiga syarat yang harus dipenuhi agar orang dapat disebut  murid Yesus yang sejati. Syarat pertama (Luk 14:26) kedengarannya keras.  Orang yang tidak &#8220;membenci&#8221; orangtua, keluarga, sanak, nyawa sendiri  tak layak menjadi muridnya. Dalam gaya bicara orang Semit yang dipakai  dalam kumpulan kata-kata Yesus, ungkapan &#8220;membenci&#8221; biasa dipakai untuk  menggambarkan sikap tidak memihak. Begitu pula &#8220;mengasihi&#8221; maksudnya  sama dengan berpihak. Dalam mengikuti jalan menuju Kerajaan Allah orang  diingatkan agar tidak lagi memihak pada ikatan-ikatan kekerabatan atau  mengikuti naluri menyelamatkan diri. Mengapa? Bukan karena mengikuti  Yesus itu bertolak belakang dengan ikatan-ikatan tadi, melainkan agar  perkara Kerajaan Allah tidak dibataskan lagi menjadi perkara &#8220;mengurus  nyawa sendiri&#8221; (mengurus keselamatan sendiri), dan dibawahkan pada  kelembagaan sosial yang tumbuh dari ikatan-ikatan keluarga. Tetapi juga  tak usah kita tafsirkan ajaran itu sebagai program hidup masyarakat  alternatif. Yesus bukan nabi &#8220;kehidupan sosial baru&#8221;. Bukan maksudnya  membangun masyarakat yang merombak pelbagai bentuk kelembagaan. Ia  sekadar menggarisbawahi bahwa warta Kerajaan Allah pada dasarnya bebas  dari pelbagai kelembagaan yang muncul dari hubungan keluarga atau naluri  mempertahankan diri dan ikatan-ikatan primordial seperti itu. Dengan  demikian warta itu bisa memberi angin baru. Bila dipikirkan lebih lanjut  kata-kata ini sebenarnya juga mengajak Gereja memeriksa diri apa  kelembagaan yang dijalankannya berada pada jalan kemerdekaan Kerajaan  Allah.</p>
<p>Syarat kedua (ayat 27) ialah mengangkat salib dan mengikuti  Yesus. Perkataan ini janganlah kita pahami sebagai ajakan mencari-cari  salib. Cara yang paling menjamin untuk menemukan salib ialah  mengikutinya jejak langkah Yesus meniti jalan yang sama. Begitulah orang  akan sampai ke tujuan perjalanan Yesus (&#8221;exodos&#8221; Luk 9:31 tempat  kemuliaannya), bukan penderitaan melulu. Bila cara berpikir ini tak ada  gunanya mencari-cari salib. Salib sudah ditemukan oleh Yesus dan orang  tinggal ikut memanggulnya. Ikut meringankan beban perjalanan. Itulah  makna mengangkat salib dan mengikutinya. Menjadi murid berarti menjadi  rekan seperjalanan. Dalam artian itulah Yesus berkata: &#8220;Barangsiapa  tidak memikul salibnya dan mengikut aku, ia tak layak mengikut aku.&#8221;  (lihat juga Mat 10:38; Mrk 8:34; 10:21; Mat 16:24; Luk 9:23). Dalam  semua ayat itu, &#8220;memikul salib&#8221; dan &#8220;mengikut aku&#8221; tak bisa dipisahkan  satu dari yang lainnya. Bila dipisahkan, beban yang dipikul orang  bisa-bisa bukan lagi salib yang membawa ke &#8220;keselamatan&#8221;, tapi berhenti  pada penderitaan yang tanpa ujung pangkal. Dan upaya menjadi murid akan  terganjal.</p>
<p>Syarat ketiga (ayat 33) ialah melepaskan harta milik.  Syarat ini disebutkan sesudah diberikan perumpamaan mengenai membuat  anggaran yang cukup sebelum mulai membangun (ayat 28-30) dan  memperhitungkan kekuatan sendiri masak-masak sebelum mulai berperang  (31-32). Bagaimana penjelasannya? Kedua perumpamaan itu mengajarkan agar  murid belajar mempertanggungjawabkan rencana yang penting dengan cara  yang matang. Hal-ihwal menjadi murid bukanlah keinginan saleh dari saat  ke saat dan mudah berubah menurut keadaan. Orang harus masak-masak  menimbang kekuatan sendiri dulu. Bukan hanya keberanian memulai, tetapi  juga kemampuan meneruskan dan menerima segala konsekuensinya.  Kepribadian murid Yesus ialah merdeka, juga dalam hal harta milik. Dalam  hubungan ini lebih jelas mengapa ada syarat agar orang melepaskan  ikatan harta milik. Salah satu kekhususan Kerajaan Allah dalam  perspektif Lukas ialah perhatian kepada orang yang miskin. Berarti orang  yang memiliki kelebihan diajak agar menggunakan kekayaan dengan mereka  membantu mereka yang kurang mempunyai. Untuk itu perlu ada sikap merdeka  terhadap harta. Orang sering lebih rela berbagi kekayaan dengan sanak  keluarga sendiri. Menjadi murid itu gaya hidup yang membentuk yang  membentuk &#8220;umat&#8221;, membentuk masyarakat yang memberi ruang hidup bagi  siapa saja yang hidup di dalamnya. Bukan masyarakat yang ditokohi  orang-orang yang siap saling menyingkirkan agar bisa maju.</p>
<p>Yesus  bukan pelopor sistem sosial yang berusaha menggariskan sistem ekonomi  yang berciri khas melepas milik pribadi. Ia sekadar ingin mengajarkan  agar mereka yang mau mengikutinya belajar makin memperhatikan  orang-orang yang tidak berkesempatan cukup untuk maju. Mereka itu berhak  mendapat bagian dalam kelimpahan yang dipunyai murid. Kita ingat juga  bahwa para pengikut Yesus dalam abad-abad pertama banyak yang berasal  dari kalangan yang berada. Mereka diajak memperhatikan orang-orang di  sekitar mereka, baik yang termasuk para murid atau yang tidak. Karena  itulah makin lama mereka makin dikenal sebagai komunitas baru, sebagai  umat baru.</p>
<p>TANYA JAWAB TENTANG TEKS</p>
<p>TANYA: Menurut Anda,  Injil mengatakan, agar bisa sungguh masuk Kerajaan Allah orang perlu  menjadi murid Yesus. Begitu kan?</p>
<p>JAWAB: Benar.</p>
<p>TANYA: Belum  jelas mengapa Lukas justru menampilkan macam-macam persyaratan menjadi  murid untuk memasuki Kerajaan Allah. Kok tidak seperti Matius yang  dengan lebih sederhana mengatakan bahwa orang mesti datang dengan  pakaian pantas? Soal ini jadi rumit bila kita ingat bahwa kata-kata  tentang membenci sanak saudara dan nyawa sendiri (Luk 14:26-27) muncul  kembali dalam konteks lain dalam Injil Matius, yakni Mat 10:37-38.</p>
<p>JAWAB:  Anda pinter! Memang Matius dan Lukas sama-sama mengolah kumpulan  kata-kata lepas Yesus yang dikenal waktu itu untuk menjelaskan berbagai  hal yang tak sama. Dalam Injil Matius kata-kata itu menjelaskan mengapa  pengikut Yesus dari kalangan Yahudi akhirnya berseberangan dengan sanak  saudara mereka yang tetap memeluk agama Yahudi. Komunitas Lukas tidak  begitu mengalami soal ini karena mereka terutama bukan orang asal  Yahudi. Bagi Lukas lebih masuk akal bila mengikuti Yesus dijelaskan  sebagai keikutsertaan dalam perjalanan Yesus sendiri ke Yerusalem dengan  dedikasi total.</p>
<p>TANYA: Wah, wah, jadi kehidupan umat awal itu  penuh dinamika! Dan ternyata bukan hanya satu kelompok seragam belaka.  Jadi pluralitas itu kenyataan sejak awal, begitu kan?</p>
<p>JAWAB:  Mengikuti Yesus itu bisa dijalankan oleh macam-macam orang dan dengan  macam-macam cara. Tidak berhenti pada rumus-rumus teologi atau kesalehan  ibadat belaka. Ikut memanggul salib, ikut serta dalam perjalanan Yesus  sendiri, itu yang ingin ditegaskan Lukas.</p>
<p>Salam hangat,</p>
<p>A.  Gianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerejakelsapa.com/news/?feed=rss2&amp;p=2749</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja</title>
		<link>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2746</link>
		<comments>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2746#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 04:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>motacm</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerejakelsapa.com/news/?p=2746</guid>
		<description><![CDATA[Gregorius lahir di  Roma pada tahun 540. Ibunya Silvia dan  dua orang tantenya, Tarsilla dan  Aemeliana, dihormati pula oleh Gereja sebagai  orang kudus. Ayahnya  Geordianus, tergolong kaya raya; memiliki banyak tanah di  Sicilia, dan  sebuah rumah indah di lembah bukit Ceolian, Roma. Selama masa  kanak –  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="style138" align="justify">Gregorius lahir di  Roma pada tahun 540. Ibunya Silvia dan  dua orang tantenya, Tarsilla dan  Aemeliana, dihormati pula oleh Gereja sebagai  orang kudus. Ayahnya  Geordianus, tergolong kaya raya; memiliki banyak tanah di  Sicilia, dan  sebuah rumah indah di lembah bukit Ceolian, Roma. Selama masa  kanak –  kanaknya, Gregorius mengalami suasana pendudukan suku bangsa Goth,   Jerman atas kota Roma; mengalami  berkurangnya penduduk kota Roma dan   kacaunya kehidupan kota. Meskipun  demikian, Gregorius menerima suatu  pendidikan yang memadai. Ia pandai sekali  dalam pelajaran tata bahasa,  retorik dan dialetika.<span id="more-2746"></span></p>
<p class="style138" align="justify">Karena posisinya di  antara keluarga – keluarga aristokrat  (bangsawan) sangat menonjol,  Gregorius dengan mudah terlibat dalam kehidupan  umum kemasyrakatan, dan  memimpin sejumlah kecil kantor. Pada usia 33 tahun ia  menjadi Prefek  kota Roma, suatu  kedudukan tinggi dan terhormat dalam dunia politik  Roma saat itu. Namun Tuhan  menghendaki Gregorius berkarya di ladang  anggurNya. Gregorius meletakkan  jabatan politiknya dan mengumumkan  niatnya untuk menjalani kehidupan membiara.  Ia menjual sebagian besar  kekayaannya dan uang yang diperolehnya dimanfaatkan  untuk mendirikan  biara – biara. Ada  enam biara yang didirikan di Sicilia dan satu di  Roma. Di dalam biara – biara  itu, ia menjalani kehidupannya sebagai  seorang rahib. Namun ia tidak saja hidup  di dalam biara untuk berdoa  dan bersemadi, ia juga giat di luar; membantu orang  – orang miskin dan  tertindas, menjadi diakon di Roma, menjadi Duta Besar di istana   Konstantinopel. Pada tahun 586 ia dipilih menjadi Abbas di biara Santo  Andreas  di Roma. Di sana ia berjuang  membebaskan para budak belian  yang dijual di pasar – pasar kota  Roma.</p>
<p class="style138" align="justify">Pada tahun 590, dia  diangkat menjadi Paus. Dengan ini  dia dapat dengan penuh wibawa  melaksanakan cita – citanya membebaskan kaum  miskin dan lemah, terutama  budak – budak dari Inggris. Ia mengutus Santo  Agustinus ke Inggris  bersama 40 biarawan lain untuk mewartakan Injil disana.  Gregorius  adalah Paus pertama yang secara resmi mengumumkan dirinya sebagai   Kepala Gereja Katolik sedunia. Ia memimpin Gereja selama 14 tahun, dan  dikenal  sebagai seorang Paus yang masyur, negarawan dan administrator  ulung pada awal  abad pertengahan serta Bapa Gereja Latin yang terakhir.  Karena tulisan –  tulisannya yang berbobot, dia digelari sebagai  Pujangga Gereja Latin. Meskipun  begitu ia tetap rendah hati dan  menyebut dirinya sebagai ‘Abdi para abdi Allah’  (servus servorum Dei).  Julukan ini tetap dipakai sampai sekarang untuk jabatan  Paus di Roma.  Setelah memimpin Gereja Kristus selama 14 tahun, Gregorius  meninggal  dunia pada tahun 604. Pestanya dirayakan juga pada tanggal 12 Maret.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerejakelsapa.com/news/?feed=rss2&amp;p=2746</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Harian 3 September 2010</title>
		<link>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2744</link>
		<comments>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2744#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 04:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>motacm</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerejakelsapa.com/news/?p=2744</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan:

1Kor.  4:1-5;
Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40;
Luk. 5:33-39

Renungan
Ajaran  tentang pantang dan puasa, sering dipahami sebagai hukum kaku yang  harus dijalankan sesuai dengan aturan yang tertulis. Sehingga seringkali  penghayatan ajaran ini lebih menekankan tindakan lahiriah. Puasa  sebenarnya bukan hanya soal makan dan minum yang dapat dilihat dan  dicatat; namun puasa lebih sebagai kemampuan mengolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bacaan:</em></strong></p>
<ul>
<li>1Kor.  4:1-5;</li>
<li>Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40;</li>
<li>Luk. 5:33-39</li>
</ul>
<p><strong><em>Renungan</em></strong></p>
<p>Ajaran  tentang pantang dan puasa, sering dipahami sebagai hukum kaku yang  harus dijalankan sesuai dengan aturan yang tertulis. Sehingga seringkali  penghayatan ajaran ini lebih menekankan tindakan lahiriah. Puasa  sebenarnya bukan hanya soal makan dan minum yang dapat dilihat dan  dicatat; namun puasa lebih sebagai kemampuan mengolah hati dan budi  untuk menahan dan menguasai diri dalam hidup dan segala tindakannya.</p>
<p>Hari  ini Yesus membela para murid yang makan-minum dan tidak puasa. Yesus  mengajak kita untuk memahami bahwa puasa lebih mengarah pada hidup baru  bersama Tuhan. Puasa memampukan orang menguasai dan menahan diri  sekaligus menjadi sarana yang memampukan kita mengolah dan menata hidup.</p>
<p>Hidup  yang diolah dan ditata, akan melahirkan cinta. Cinta akan memampukan  kita untuk, gembira, jujur, adil, ramah, tidak pilih kasih, dan mampu  memaafkan serta memahami sesama. Puasa sejati adalah soal cara kita  belajar untuk menguasai dan mengendalikan diri dalam seluruh aspek  kehidupan kita.</p>
<p><em>(Renungan Harian Mutiara Iman 2010, Yayasan  Pustaka Nusatama)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerejakelsapa.com/news/?feed=rss2&amp;p=2744</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Injil Minggu XXII/C : Luk 14:1.7-14</title>
		<link>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2741</link>
		<comments>http://gerejakelsapa.com/news/?p=2741#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 02:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>motacm</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerejakelsapa.com/news/?p=2741</guid>
		<description><![CDATA[Rekan-rekan yang baik!
Para pengikut Yesus dalam Gereja Perdana semakin sadar bahwa mereka diutus bepergian ke pelbagai penjuru dunia menyampaikan Kabar Gembira dengan menyembuhkan orang sakit, mengajar dan meneguhkan iman. Orang cacat, orang buta, janda miskin mereka usahakan agar tidak melulu menjadi penerima sedekah atau orang-orang yang ditolerir keberadaannya, melainkan menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rekan-rekan yang baik!</strong></p>
<p>Para pengikut Yesus dalam Gereja Perdana semakin sadar bahwa mereka diutus bepergian ke pelbagai penjuru dunia menyampaikan Kabar Gembira dengan menyembuhkan orang sakit, mengajar dan meneguhkan iman. Orang cacat, orang buta, janda miskin mereka usahakan agar tidak melulu menjadi penerima sedekah atau orang-orang yang ditolerir keberadaannya, melainkan menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Itulah kerasulan murid-murid generasi awal. Sebelumnya tak banyak didengar bahwa iman dapat diwartakan dalam ujud pelayanan bagi kemanusiaan. Para pemimpin mereka memang mendapatkan ilham dari kehidupan dan karya Yesus Sang Mesias sendiri. Dalam mewartakan kedatangan Kerajaan Allah ia menyembuhkan orang, mengusir setan, memperkenalkan kerahiman Tuhan, meninggikan nilai kemanusiaan. Ia juga mengikutsertakan murid-muridnya dalam kegiatannya sehingga mereka menjadi rekan sekerjanya. Bagaimana Injil Minggu Biasa XXII C, yakni Luk 14:1.7-14 dapat membantu kita mendalami kenyataan ini?<span id="more-2741"></span></p>
<p><strong>MENGHARGAI SANG PENCIPTA</strong></p>
<p>Petikan Injil ini berawal dengan cerita kedatangan Yesus pada satu hari Sabat untuk makan di rumah seorang Farisi yang terpandang (Luk 14:1). Semua mata diarahkan kepada Yesus dengan penuh perhatian. Mereka mendengar bahwa Yesus pernah menyembuhkan orang pada hari Sabat (Luk 13:10-17). Dalam adat dan agama Yahudi banyak hal yang dikerjakan pada hari biasa tidak boleh dilakukan demi menghormati kekudusan hari itu. Apakah ia akan menjalankan sesuatu yang tak lazim lagi?</p>
<p>Dalam ayat-ayat selanjutnya dikisahkan bagaimana Yesus tanpa ragu-ragu menyembuhkan orang yang sakit busung air yang datang kepadanya. Ketika orang bertanya-tanya apakah tindakan ini bisa dibenarkan, ia menjawab, siapa yang tidak berbuat sesuatu bila anaknya atau lembunya terperosok ke sumur pada hari Sabat (ayat 5). Maksudnya, keadaan yang mendesak bakal mengizinkan orang menjalankan hal yang biasanya tidak boleh dilakukan. Yesus mennghimbau orang memakai akal sehat. Jawaban ini erat hubungannya dengan Luk 13:15. Di situ Yesus mengingatkan, bukankah orang mengeluarkan lembu atau keledainya dari kandang setiap hari, juga pada hari Sabat, agar hewan dapat pergi ke tempat minum? Apalagi kini ada keturunan Abraham yang sudah 18 tahun menderita terikat kuasa Iblis. Kata-kata ini disampaikannya untuk menjawab keberatan kepala rumah ibadat yang melihatnya menyembuhkan pada hari Sabat. Ada enam hari kerja, mengapa Yesus melakukannya justru pada hari Sabat dan di rumah ibadat!</p>
<p>Menyembuhkan orang pada hari Sabat memang bukan hal biasa. Juga dalam masyarakat Yahudi waktu itu orang sakit tidak akan datang mencari tabib pada hari itu. Tetapi mengapa dilarang bila keadaannya mendesak dan bakal memburuk bila tidak dikerjakan? Bentuk-bentuk kerasulan baru biasanya tumbuh dari keadaan mendesak seperti itu. Sering ujud dan cara pelaksanaannya tidak mengikuti pola-pola yang lazim dan tidak langsung dimengerti rekan sekerja. Namun baik diingat bahwa pada hari ketujuh, hari Sabat, Tuhan beristirahat dari karya ciptaanNya dan memberkatinya (Kej 2:2-3). KaryaNya kini dilanjutkan oleh orang-orang yang mengamalkan hidup mereka agar kemanusiaan lebih menampilkan wajah dan kemiripanNya. Dalam pandangan ini, kerasulan yang ditekuni para religius akan menjadi ujud nyata berkat Pencipta dan menjadi jalan memuliakan Tuhan. Pada hari istirahatNya itu Tuhan akan dapat memandangi orang-orang yang berkehendak baik menyediakan diri menjadi jalan berkatNya bagi semua yang telah diciptakanNya selama enam hari sebelumnya.</p>
<p>Peristiwa penyembuhan pada hari Sabat di rumah seorang Farisi itu kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan ajakan agar orang menaruh diri di tempat yang rendah (Luk 14:7-11) dan seruan untuk tidak melupakan orang-orang yang biasanya tidak dapat ikut serta dalam kegembiraan pesta (Luk 14:12-14). Apa maksud kedua pengajaran itu?</p>
<p>TEMPAT TERHORMAT&#8230;BAGI SIAPA SAJA!</p>
<p>Perumpamaan mengenai orang yang menduduki tempat terhormat tapi kemudian diminta pindah ke belakang dan orang yang duduk di belakang tapi dipersilakan maju menunjukkan adanya keinginan orang untuk dianggap orang terpandang. Tetapi apa pokok pengajaran perumpamaan ini? Menaruh diri di tempat yang rendah agar dipersilakan ke tempat yang terhormat kerap kali dimengerti sebagai menjalankan kerendahan hati dan berkelakuan baik-baik. Jadi semacam ajaran untuk tidak menonjolkan diri dan membiarkan orang lain mencarikan tempat yang lebih layak. Apakah Yesus bermaksud mengajarkan sopan santun sambil mengkritik kebiasaan mereka yang suka mencari tempat yang dianggap tempat terhormat? Atau dia memakai amatan dalam perumpamaan itu untuk mengajarkan perihal Kerajaan Allah?</p>
<p>Meskipun tidak buruk, tafsiran yang pertama tidak membuat warta Injil terasa. Arah yang kedua lebih sejalan dengan Injil sendiri. Memang seorang tamu boleh jadi merasa berhak menduduki tempat yang terpandang. Tetapi hanya tuan rumahlah yang betul-betul tahu mana tempat yang cocok bagi orang yang diundangnya. Lukas menyebut uraian Yesus itu &#8220;perumpamaan&#8221; (Luk 14:7) justru agar pembaca berusaha mencari hikmatnya dan bukan langsung menerapkan bentuk luarnya pada tingkah laku sopan santun. Diajarkan apa artinya membuat tuan rumah tadi sendiri yang mencarikan tempat, mempersilakan tamunya menduduki tempat yang disediakan baginya.</p>
<p>Kepada siapa pengajaran dalam bentuk perumpamaan itu ditujukan? Tentunya kepada para murid. Tetapi tidak berarti bahwa mereka itu orang-orang yang berusaha mencari tempat yang terhormat atau yang pandai memilih tempat rendah agar ditinggikan nanti. Ini bukan alegori, melainkan perumpamaan yang mengajak orang berpikir. Baik diperhatikan dalam kisah itu hanya ada satu saja tempat terhormat. Padahal banyak yang ingin mendapatnya. Orang diminta berlaku rendah hati dan tidak mengingini tempat itu? Meleset! Lebih tepat bila perumpamaan itu dilihat sebagai imbauan kepada para murid agar berusaha menyediakan tempat terhormat sebanyak-banyaknya sehingga semakin banyak orang dapat dibawa ke tempat yang terhormat. Tak peduli apa datang duluan atau kemudian, ingin duduk di muka atau memilih ada di belakang dengan harapan nanti dipersilakan ke depan. Cara memahami seperti ini hanya mungkin bila perumpamaan tadi tidak dianggap berbicara mengenai tempat perjamuan yang biasa. Di situ hendak diajarkan perihal Kerajaan Allah. Dalam arti ini para undangan mirip dengan para pekerja kebun anggur yang diupah sama walaupun jumlah jam kerja mereka berlain-lainan seperti diceritakan dalam Mat 20:1-16. Dalam perumpamaan Matius itu upah yang sama bukan ketidakadilan melainkan pemberian dan kemurahan hati pemilik kebun yang ingin agar semakin banyak orang menikmati keberuntungan.</p>
<p>Kerasulan zaman ini macam-macam ujudnya, termasuk yang sering disebut karya pelopor seperti misalnya pelayanan kaum pengungsi, pendampingan buruh harian, penampungan dan rehabilitasi bekas penyandang narkoba, gelandangan dan anak jalanan. Pelbagai bentuk kerasulan baru yang dikenal sekarang pada dasarnya bertujuan mengentas orang-orang yang hidup dalam kondisi hidup yang kurang layak akibat macam-macam ketakberuntungan. Keadaan ini membuat mereka kurang dapat ikut menikmati kemurahan Tuhan. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa para pelayan pastoral yang terjun dalam kerasulan ini diajak ikut menyediakan tempat terhormat sebanyak-banyaknya bagi orang-orang yang mereka layani. Kerasulan pelopor memiliki banyak kemungkinan untuk mewujudkannya.</p>
<p>SUMBER KEBAHAGIAAN</p>
<p>Dalam bagian kedua, yakni Luk 14:12-14, ada pengajaran yang melengkapi bagian pertama tadi. Jika murid-murid dihimbau agar ikut menyediakan tempat terhormat sebanyak-banyaknya sehingga banyak orang nanti dapat ikut menikmatinya, lalu manakah karya yang paling membawa ke tujuan itu? Jawabannya sederhana, yakni &#8220;undanglah orang yang tak bakal mampu balas mengundang, yakni orang miskin, cacat, lumpuh dan buta!&#8221; Dan kebaikan yang tak langsung bisa berbalas ini dikatakan menjadi sumber kebahagiaan bagi yang mengadakan pesta. Dinasihatkan agar orang mencari balasan yang benar-benar patut diharapkan, yaitu balasan yang diberikan pada hari terakhir oleh Yang Maha Kuasa sendiri. Dengan demikian diajarkan agar orang menjalankan kebaikan kepada kaum lemah dengan dorongan yang amat manusiawi tetapi sekaligus juga amat religius. Manusiawi karena balasan tetap diharapkan dan apa jeleknya mengharapkan balasan yang setimpal? Tetapi juga dorongan itu bersifat religius karena balasan yang bakal diperoleh itu baru sungguh didapat pada hari kebangkitan orang-orang benar kelak. Inilah pengajaran iman bagi mereka yang bekerja bagi orang yang tak bisa membalas budi dengan cara yang sama di dunia ini.</p>
<p>Menjelang zaman kelahiran Yesus, semakin muncul gambaran bahwa pada akhir zaman orang-orang yang baik akan dibangkitkan dan mendapat hidup kekal sebagai balasan setimpal seperti tampak dalam Dan 12:2. Tapi ada juga orang-orang yang akan jatuh ke dalam aib abadi. Bagaimana menghindari malapetaka ini? Dalam warta Injili, ada kesadaran bahwa Yang Maha Kuasa tidak tinggal diam. Ia mengirim utusanNya menyampaikan Kabar Gembira bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dalam diri utusan itu sendiri, yakni Yesus Kristus. Dengan mengikutinya orang akan tertuntun masuk ke kelompok mereka yang nanti pada akhir zaman akan dibangkitkan dan mendapat hidup kekal. Mereka yang percaya kepada Kabar Gembira ini diminta agar berani mengikutsertakan orang-orang yang biasanya dianggap tidak masuk hitungan, orang miskin, orang cacat, orang lumpuh dan buta. Datang mendekat ke Kerajaan Allah berarti mulai memperoleh kembali penglihatan, berbagi kekayaan Tuhan, dapat berjalan kembali.</p>
<p>Kemuliaan Tuhan semakin tampak nyata bila Ia semakin dekat pada manusia dan bukan bila Ia jauh dan tak terjangkau. Pelayan pastoral yang peka akan dapat banyak membuatNya lebih dekat kepada kemanusiaan. Kaum religius dapat berbuat banyak. Sebagai orang yang mengajak sesama bergembira datang ke perjamuan dalam Kerajaan Allah, seorang religius juga boleh percaya bahwa kegiatan ini dapat menjadi jaminan bagi kebahagiaan sendiri juga. Untuk itu tak perlu lagi ragu-ragu mengikutsertakan orang-orang yang umumnya dianggap tak pantas, yang tak bisa membalas, yang tidak bisa datang sendiri, tapi membutuhkan dan minta dituntun. Mereka itu disayangi Tuhan dan bila kita mempertemukan mereka kembali denganNya, dapatkah Dia melupakan kebaikan ini?</p>
<p>Salam hangat,<br />
A. Gianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerejakelsapa.com/news/?feed=rss2&amp;p=2741</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
